A. terhadap perbedaan kecerdasan pembelajar ini penting bagi

A.    PENDAHULUAN               Tujuan utama dalam pengajaran bahasa target dalam hal ini adalah bahasa inggris adalah membuat bahasa itu sebanyak mungkin terekspos kepada siswa seperti menghindari menerjemahkan secara langsung dan menjelaskan materi dengan menggunakan bahasa ibu. Selama ini dalam proses pembelajaran bahasa inggris, guru selalu menemukan hambatan dan kesulitan dalam menentukan model pembelajaran yang efektif, menarik dan bermanfaat dalam pembelajaran bahasa inggris. Hal ini terjadi karena mereka tidak mengerti bahwa setiap siswa itu memiliki potensi yang berbeda termasuk kecerdasan dalam belajar. Untuk itu diperlukan metode belajar yang variatif yang sesuai dengan tipe masing masing siswa sehingga proses pembelajaran dikelas menjadi efektif, menarik dan bermanfaat.               Pembelajaran bahasa memiliki kaitan yang erat dengan interaksi kecerdasan yang dimiliki manusia. Gardner (2003:32) mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah, dalam upaya memberikan kontribusi terhadap lingkungan belajar serta untuk mengidentifikasi tantangan baru yang harus dihadapi. Menurut Amstrong (2004: 2) setiap orang memiliki delapan jenis kecerdasan dengan kapasitas yang berbeda beda. Pemahaman terhadap perbedaan kecerdasan pembelajar ini penting bagi seorang pengajar karena dengan mengenal perbedaan karakteristik pembelajar, pengajar dapat mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajarnya dengan baik. Griggs, et al.. (2009: 55) menyatakan “If instructors know the strengths of their students, they can better prepare engaging and relevant lessons that correlate with those strengths”.               Melalui pengembangan model pembelajaran berbasis teori kecerdasan majemuk mampu membuat siswa berkomunikasi melalui kecerdasan kecerdasan yang mereka miliki yang diaktifkan secara bersamaan untuk memberikan kemudahan kepada mereka sehingga proses pembelajaran menjadi efektif. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Gardner (1983:87) yang menyatakan bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran bahasa dibutuhkan interaksi yang kompleks terhadap berbagai macam bentuk kecerdasan yang dimiliki. Model pembelajaran kecerdasan majemuk mampu memberikan perbedaan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa dibandingkan dengan penggunaan model pembelajaran tradisional.                Sebelum merancang model ini, penulis melakukan pra riset. Pra riset dilakukan untuk mengetahui jenis kecerdasan apa yang dimiliki oleh pembelajar pada salah satu perguruan tinggi yang ada di provinsi Riau. Penulis melakukan survei pada perguruan tinggi STAI Nurul Hidayah Selatpanjang. Hasil yang didapat menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata tipe kecerdasan mahasiswa jurusan pendidikan agama islam STAI Nurul Hidayah Selatpanjang. Tiga tipe kecerdasan mendapatkan respon paling tinggi dari tipe kecerdasan yang lain. Kecerdasan tersebut adalah kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan Spasial.               Berdasarkan hasil dari pra riset tersebut penulis memutuskan untuk membuat desain pengembangan model berdasarkan teori multiple intelligences. Desain model itu merupakan gabungan dari beberapa gaya belajar yang berbasis dari teori multiple intelligences. Ini sejalan dengan Gardner (1983) yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis teori kecerdasan majemuk merupakan variasi dari beberapa kecerdasan yang dimiliki siswa yang tidak hanya fokus kepada satu jenis kecerdasan saja, karena masing masing siswa memiliki minat, hobi, kemauan dan gaya tersendiri.               Pertama yaitu gaya belajar Aural.  Gaya belajar Aural merupakan gaya belajar yang memungkinkan pembelajarnya memahami materi atau informasi belajar melalui pendengaran seperti membaca keras, mendengarkan lagu, mendengarkan rekaman penutur asli dan sebagainya. Metode pembelajaran ini bisa digunakan kepada tipe pembelajar yang tidak bisa sepenuhnya memahami materi atau informasi pembelajaran yang tertulis. Menurut Kostelnik, Soderman & Whiren (2007:45) gaya belajar aural adalah gaya belajar yang menggunakan cara belajar mendengarkan dan berbicara sebagai gaya belajar utama dalam proses pembelajaran. Dunn (1984) juga menyatakan bahwa gaya belajar aural adalah gaya belajar yang memudahkan siswa mengingat apa yang mereka dengar. Dengan gaya belajar auditori ini mereka dengan mudah berkosentrasi dalam menerima pembelajaran yang baru atau yang sulit.               Kedua, gaya belajar Visual, gardner (1983) menyatakan bahwa siswa yang terbiasa belajar dengan cara visual biasanya menyukai gambar, membaca peta, teka teki silang, dan menyusun gambar. Selain itu, Felder (1996) menyatakan bahwa dimensi visual itu berhubungan dengan proses siswa dalam menerima informasi. Pendapat para ahli tersebut membuktikan bahwa pembelajaran visual akan efektif apabila dilakukan dengan cara melihat gambar, grafik, peta, filem daripada hanya dilakukan dengan kata-kata.                Dan terakhir adalah gaya belajar sosial. Gaya belajar sosial berfokus pada pembelajaran yang terjadi dalam konteks sosial. Gaya belajar ini merupakan bagian dari kecerdasan interpersonal pembelajar. Menurut Gadner (2013:24) kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami informasi atau pembelajaran yang disampaikan oleh orang lain. Lwin et al (2008:197) juga mengemukakan bahwa kecerdasan interpesonal adalah kemampuan untuk memahami dan memprediksi perasaan, perilaku, suasana hati, dan keinginan orang lain dengan menanggapinya secara benar. Campble (2003:18) juga menyatakan bahwa kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang memiliki kemampuan utnuk bekerja sama dengan baik dengan orang lain, memiliki empati dan pengertian, juga mampu beromunikasi dengan baik secara verbal maupun non verbal dengan orang lain. B.     DESAIN MODEL               Dalam mengembangkan model pembelajaran ini digunakan Model Desain pengembangan ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate) yang berdasarkan model pengembangan  yang direkomendasikan oleh  Borg dan  Gall. Sehingga,  model tersebut sesuai untuk mengembangkan produk model  instruksional/pembelajaran yang tepat sasaran, efektif dan dinamis dan sangat membantu dalam pengembangan pembelajaran bagi guru. Gambar 1. Elemen Inti Model Pengembangan ADDIE

Model ADDIE telah dikembangkan pertama
kali oleh oleh Dick and Carry (1996) model ini dikembangkan untuk merancang
model pembelajaran. Berikut beberapa langkah kegiatan  pada setiap tahap pengembangan  model pembelajaran, yaitu:

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

a. Analisis

Dalam kegiatan analisis diawali oleh
 adanya masalah dalam model  pembelajaran yang sudah pernah diterapkan.
Masalah dapat terjadi karena  model/metode
pembelajaran yang ada  sekarang sudah
tidak relevan dengan  kebutuhan sasaran,
lingkungan belajar,  teknologi,
karakteristik peserta didik,  dan
sebagainya. Dalam tahap analisis akan dilakukan beberapa proses untuk
mengetahui atau menentukan apa yang menjadi kebutuhan belajar bagi siswa
diantaranya adalah melakukan analisis kebutuhan dan analisis kinerja sehingga
setelah dilakukan analisis tersebut akan diketahui karakteristik atau profil
peserta didik.

b. Desain

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang
sistematis yang diawali dengan menetapkan tujuan pembelajaran, strategi,
perangkat pembelajaran, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.

c.
Pengembangan

Pada tahap ini adalah proses
realisasi dari rancangan produk. Dalam tahap ini, kerangka yang masih dalam
bentuk konseptual direalisasikan dalam beentuk produk yang siap
diimplementasikan

d. Implementasi               Dalam tahap ini dilakukanlah implementasi rancangan produk model pembelajaran pada situasi yang nyata. Dalam hal ini rancangan produk pengembangan model pembelajaran diharapkan membuat siswa mencapai tujuan pembelajaran, adanya solusi untuk memecahkan masaalah peserta didik dalam proses pembelajaran dan menghasilkan output kompetensi yang diperlukan oleh peserta didik.e. Evaluasi

Evaluasi merupakan proses utnuk
mengetahui produk pengembangan yang dikembangkan berhasil atau tidak. Evaluasi
bisa dilakukan pada masing masing tahap baik itu pada tahap analisis, desain,
pengembangan maupun tahap implementasi yang disebut evaluasi formatif.
Tujuannya adalah untuk merevisi segala bentuk kesalahan yang ditimbulkan dalam setiap
tahap pengembangan model. Pada setiap tahap pengembangan model ini diperlukan
review para ahli dalam memberikan masukan terhadap rancangan model pembelajaran
yang sedang dikembangkan.  

 

Kerangka pengembangan model pembelajaran adalah sebagai berikut:Gambar 2. Kerangka Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis ADDIE Model                 Produk model pengembangan ini dibuat melalui beberapa tahap, yaitu tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Masing-masing tahap pengembangan model pembelajaran ini melalui proses evaluasi dan revisi. Sehingga pada tahap akhir menghasilkan produk pengembangan model pembelajaran VAS (Visual, Aural, Social) yang merupakan pengembangan dari pada analisis kebutuhan pembelajaran bahasa inggris yang berbasis teori kecerdasan majemuk. Tabel 1 Produk Pengembangan Model Pembelajaran

Model dan Sasaran
Program
Pengajaran Bahasa

VAS (Visual, Aural, Social): Mengembangkan kemampuan akademik pembelajaran bahasa inggris ESP
·         Metode pembelajaran visual·         Metode pembelajaran aural·         Metode pembelajaran sosial 
·         Penggunaan realia dan video sebagai media pembelajaran·         Penggunaan musik atau lagu dan materi rekaman penutur bahasa inggris asli·         Diskusi kelompok, drama, dan debat ilmiah

                Rancangan pengembangan model VAS dirancang untuk meningkatkan kemampuan akademik pembelajaran bahasa inggris English for Specific Purposes pada jurusan pendidikan agama islam. Model ini dirancang berdasarkan teori multiple intelligences yang dikemukakan oleh Gardner pada tahun 1983. Menurut Gardner (1983) menyatakan ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu yaitu kecerdasan linguistics, kecerdasan Logical-mathematic, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan naturalis.                Menurut Carney dan levin (2002) menyatakan bahwa pembelajaran visual membantu pembelajaran lebih banyak terekspos dengan bahasa target dan juga dapat membantu pengajar membuat konsep belajar menjadi lebih konkret atau nyata. Penggunaan video atau gambar dalam pembelajaran bahasa mampu menghubungkan antara bahasa ibu dan bahasa target, sehingga penggunaan penerjemahan secara langsung tidak diperlukan (Feuntein 1995). Ini juga sejalan dengan pernyataan Brinton (2001) yang menyatakan bahwa Penggunaan video atau gambar juga membantu proses pembelajaran menjadi efisien karena dengan menggunakan video atau gambar penggunaan penerjemahan langsung terhadap bahasa target bisa dikurangi. Penggunaan metode visual membantu meningkatkan keyakinan pembelajar karena dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode ini memungkinkan pembelajar meniru bahasa target secara nyata sehingga membuat pembelajar menjadi lebih berpartisipasi dan termotivasi. Ini sejalan dengan pernyataan oxford (2001) yang menyatakan bahwa jika materi pembelajaran dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran maka siswa akan merasa yakin, termotivasi dan mengurangi kekhawatiran dalam proses pembelajaran.               Selain menggunakan objek nyata dalam proses pembelajaran bahasa target, metode pembelajaran dengan menggunakan indera pendengaran juga sangat diperlukan. Metode belajar aural merupakan gaya belajar yang menggunakan indera pendengaran dalam melakukan aktifitas pembelajaran. Dengan metode ini, pembelajar lebih mudah menangkap rangsangan melalui indera pendenganran mereka. Midleton (2013) mengungkapkan bahwa metode pembelajaran berbasis audio memudahkan dalam mengajak siswa dalam proses pembelajaran yang memungkinkan siswa dengan mudah terhubung dengan materi pembelajaran.                Metode pembelajaran audio akan sangat lebih baik menggunakan bunyi atau musik dalam proses pembelajaran. Menurut Shipley (1998) musik bisa mengembangkan kemampuan kognitif mereka, meningkatkan keahlian dalam berbahasa, pengertian dalam berbahasa, dan kosa kata. Ketika lagu atau musik di gunakan dalam proses pembelajaran keahlian yang paling dominan dilibatkan adalah keahlian dalam menyimak yang berfokus kedalam beberapa kegiatan kegiatan dalam mendengarkan. Griffee (1992) menyatakan bahwa aktifitas yang terdapat dalam pemahaman mendengarkan adalah mendengarkan ringkasan, mendengarkan kosa kata yang sulit, dan mendengarkan kalimat kalimat perintah. Griffe (1992) juga menyatakan bahwa pembelajar berlatih mengucapkan kata kata ketika mereka menyaikan lagu. Jadi, mereka akan dengan mudah mengingat kosa kata.               Murphey (1992) menyatakan bahwa musik atau lagu bisa membantu pembelajar meningkatkan keahlian menyimak, cara pengucapan, sehingga juga akan membantu mereka dalam meningkat keahlian berbicara. Musik atau lagu juga berguna untuk media pembelajaran kosa kata, dan struktur kalimat. Selain itu manfaat penggunaan musik atau lagu dalam proses pembelajaran adalah menyenangkan dan meningkat motivasi pembelajar dalam proses pembelajaran.                 Selain kedua metode pembelajaran yang telah dijelskan diatas metode pembelajaran sosial juga merupakan salah satu bagian dari teori kecerdasan majemuk yang berfokus kepada kecerdasan interpersonal. Metode pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk berinteraksi satu sama lain dan memahami orang lain dalam situasi sosial. Dalam metode belajar ini siswa diminta untuk berinteraksi dan menggunakan cara belajar dengan berkomunikasi secara interpersonal. Metode pembelajaran ini bisa berbentuk aktivitas aktivitas disekolah seperti drama, diskusi kelompok, debat dan berpidato.  C.    SYNTAX PEMBELAJARAN                Model VAS dirancang berdasasarkan tiga gaya belajar yang paling banyak mendapat respon oleh mahasiswa. Model VAS merupakan gabungan antara metode mengajar secara nyata yang banyak menggunakan media-media yang berbentuk visual, juga melibatkan proses pembelajaran berbasis aural yang banyak menggunakan media-media pembelajaran auditori dan mewujudkan cara belajar sosial yang melibatkan seluruh mahasiswa untuk berinteraksi secara sosial. Model VAS terdiri dari dua elemen pembelajaran bahasa antara lain; penggunaan media pembelajaran yang autentik seperti media pembelajaran yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa, dan mengurangi kekhawatiran dalam belajar. Yang kedua adalah menggunakan strategi pembelajaran sosial dan afektif seperti melibatkan siswa dalam kerja kelompok seperti drama, diskusi, debat, kunjungan lapangan, dan sebagainya. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri mereka berdasarkan jenis kecerdasan mereka sehingga proses pembelajaran akan sesuai dengan kebutuhan siswa.D.    TAHAP PENGAJARAN VAS MODEL               Model pembelajaran VAS memiliki  tahap pengajaran yaitu tahap perencanaan, membangun Minat dan Motivasi, implementasi media dan strategi pembelajaran, presentasi, interaksi sosial, latihan, penilaian dan evaluasi. Perencanaan : Menyesuaikan bentuk metode dan media pembelajaran yang sesuai untuk pengembangan pembelajaran bahasa inggrisMinat dan Motivasi : Membangun minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa inggris sehingga siswa bisa berhubungan dengan mater belajar yand diberikanImplementasi media pembelajaran: Memastikan penggunaan media dan strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswaPresentasi : Materi pengembangan bahasa target berbasis media dan strategi yang telah di tentukanInteraksi sosial : guru mendorong siswa untuk melakukan interaksi didalam kelas untuk mengembangkan bahasa target yang dipelajariLatihan : Menggunakan kegiatan kegiatan yang berbasis media dan strategi yang telah ditentukanPenilaian dan evaluasi : Guru memberikan umpan balik, evaluasi, dan menilai hasil pembelajaran 

Daftar Pustaka

 

Armstrong,
T. 2009. Multiple intelligences in the classroom, 3rd edition, ASCD:
Alexandria, Virginia,.

 

Brinton,
D.M. (2001). The use of Media in Language Teaching. in Celce-Murcia. M. (ed.) Teaching
English as a second or foreign language. Boston: Heinle and Heinle.

Carney,
R.N and Levin, J.R. (2002). Pictorical Illustrations still Improve students’
Learning from Text .Educational Psychology Review, Vol. 14, no. 1,
March.

Dunn,
R. S. and Dunn, K. J. 1978.Teaching Secondary Students Through Their
Individual Learning Styles. Prentice Hall.

Griffee,
Dale T.1992. Songs in action. UK: Prentice Hall.

Gardner,
H. (1993) Frames of mind: The theory of multiple intelligences. Britain.
Fontana Press.

Gardner,
H.2006. Multiple intelligences: new horizons. New York: Basic Books.

Murphey, T.
1992.  The Discourse of Pop Song. TESOL
Quarterly.

Oxford,
R.L. (2001).Language Learning Styles and Strategies’ in Celce-Murcia, M. (ed.) Teaching
English as a second or foreign language. Boston: Heinle and Heinle.

Shipley,Dale.1998.Empowering
children. Second Edition. Canada: International Thomson P ublishing.

 

 

 

                  

Author:

x

Hi!
I'm Eileen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out