ABSTRACT Tingginya jumlah pengangguran dari tahun ke tahun

ABSTRACT

Entrepreneurship
needs to be developed for students in college. Seeing from the unemployment
rate for Higher Education graduates is very high, proof that employment in
Indonesia is getting less. If the student is able to become an entrepreneur,
then the job field will increase and economic growth in Indonesia will be more
advanced. Successful entrepreneurs in general are those who have competencies,
such as having the knowledge, skills and individual qualities that include the
attitudes, motivations, values and behaviors necessary to carry out the work.

 

Keywords: Entrepreneurship,
Wirausaha, Mahasiswa.

 

 

1.       Pendahuluan

Tingginya jumlah pengangguran dari
tahun ke tahun menjadi tantangan berat yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Mengurangi angka pengangguran selalu menjadi prioritas program pemerintah,
namun setiap tahun angka tersebut sulit dikurangi. Lulusan perguruan tinggi
lebih memilih bekerja menjadi PNS atau pegawai kantor, akan tetapi untuk
menjadi PNS atau pegawai kantor tidaklah mudah. Salah satu solusi yang
ditawarkan pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran adalah menciptakan
lapangan kerja. Namun kalangan terdidik cenderung menghindari pilihan pekerjaan
ini karena preferensi mereka terhadap pekerjaan kantor lebih tinggi. Preferensi
yang lebih tinggi didasarkan pada perhitungan biaya yang telah mereka keluarkan
selama menempuh pendidikan dan mengharapkan tingkat pengembalian yang
sebanding.

Adanya alumni perguruan tinggi yang
banyak mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, terlihat pada lamanya waktu
tunggu lulusan mendapatkan pekerjaan, hal ini terlihat dari kurangnya kemampuan
calon tenaga kerja, minimnya semangat dan ketrampilan wirausaha para lulusan. Maka
dari itu perlu kepada para mahasiswa diberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan
kewirausahaan agar mereka memiliki pengalaman berwirausaha dan meningkatkan
daya saing yang kuat di dunia kerja. Hal ini yang mendasari pentingnya upaya
untuk menumbuhkan kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

 

2.       METODE

Metode
yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.

 

3.       HASIL
DAN PEMBAHASAN

Bahasan mengenai entrepreneurship memberikan beragam
definisi. Entrepreneurship dapat diartikan sebagai kegiatan kewirausahaan.
Terdapat banyak definisi tentang entrepreneurship, yang secara garis besarnya entrepreneurship dapat diartikan sebagai
kemampuan individu dalam menciptakan peluang ekonomis dari sebuah ide usaha
baik skala kecil maupun skala besar.

Adapun pengertian entrepreneur menurut Eddy Soeryanto
Soegoto  dalam bukunya yang berjudul Entrepreneurship Menjadi Pebisnis Ulung
bahwa entrepreners adalah orang yang
berjiwa kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, ulet dan tekun, rajin,
disiplin, siap menghadapi risiko, jeli melihat dan meraih peluang, piawai
mengelola sumber daya, dalam membangun, mengembangkan, memajukan dan menjadikan
usaha atau perusahaannya unggul. (Eddy Soeryanto Soegoto, 2014: 25)

Hakekat entrepreneur adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan
menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya- sumber daya
yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta
memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inofatif ke dalam
dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/ meningkatkan pendapatan.
(Eddy Soeryanto Soegoto, 2014: 27-28)

Sebelum memulai menjadi seorang entrepreneur, mengenali diri sendiri
sangat penting dilakukan untuk mengetahui kompetensi, bakat , minat dan hobi.
Dengan mengetahui potensi atau minat apa yang dimiliki, maka akan lebih mudah
bagi kita untuk menentukan jenis usaha apa yang ingin kita bangun. Kemampuan sepele
pun bisa saja berbuah manis apabila kita mampu melihat peluang usaha melalui
wirausaha.

Dalam kajian literatur, banyak para
ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang kewirausahaan, yaitu: (1) Kewirausahaan
adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber
daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Ahmad,
1994); (2) Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang
baru dan berbeda (Sudaryana, 2003); (3) Kewirausahaan adalah suatu proses
penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan
peluang untuk memperbaiki usaha (Sudaryana, 2003); (4) Kewirausahaan adalah
suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha dan perkembangan usaha
(Soeharto Prawiro, 1997)

Berdasarkan
konsep di atas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai suatu
kemampuan kreatif dan inovatif (create
new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses, dan
perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan
keberanian untuk menghadapi risiko.

Seorang
entrepreneur tidak hanya dapat berencana, tetapi juga berbuat merealisasikan
rencana-rencana dalam pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada
kesuksesan. Maka dibutuhkan kreativitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang
baru. Kewirausahaan pada dasarnya adalah semangat, sikap, perilaku dan
kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada
upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru
dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik
dan atau memperoleh keuntungan yang maksimal.

Ilmu
kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai,
kemampuan dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk
memperoleh peluang dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapinya. Pada
mulanya, kewirausahaan dianggap hanya dapat dilakukan melalui pengalaman
langsung di lapangan dan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir sehingga
kewirausahaan tidak dapat dipelajari dan diajarkan. Dewasa ini, kewirausahaan
tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman lapangan, tetapi
juga dapat dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki bakat
kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang
menjadi entrepreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi dan belajar
mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisasikan usaha
dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang
sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan
mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuninya.

 

A.    
FAKTOR
KEBERHASILAN KEWIRAUSAHAAN

Dalam
kegiatan berwirausaha, seorang wirausaha akan menghadapi berbagai faktor yang
dapat mendukung, namun juga perlu memperhatikan berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi kegagalannya.

Menurut
Suryana (2003), karakteristik sikap dan perilaku yang diperlukan agar
kewirausahaan dapat berhasil adalah sebagai berikut: (1) memiliki komitmen yang
tinggi dan tekad yang bulat untuk mencurahkan semua perhatiannya pada usaha.
Sikap yang setengah hati mengakibatkan besarnya kemungkinan untuk gagal dalam
berwirausaha; (2) memiliki rasa tanggung jawab baik dalam mengendalikan sumber
daya yang digunakan maupun tanggung jawab terhadap keberhasilan berwirausaha.
Keinginan bertanggung jawab ini erat hubungannya dengan mempertahankan internal
locus of control yaitu minat kewirausahaan dalam dirinya; (3) berambisi untuk
selalu mencari peluang, keberhasilan wirausaha selalu diukur dengan
keberhasilan untuk mencapai tujuan. Pencapaian tujuan terjadi apabila ada
peluang; (4) tahan terhadap risiko dan ketidakpastian; (5) percaya diri yang
kuat, ia cenderung optimis dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan
yang dimilikinya untuk berhasil; (6) memiliki kreativitas yang tinggi dan
luwes. Salah satu kunci penting adalah kemampuan untuk menghadapi perubahan
permintaan. Kekakuan dalam menghadapi perubahan ekonomi dunia yang serba cepat
sering kali membawa kegagalan. Kemampuan untuk menanggapi perubahan yang cepat
dan fleksibel tentu saja memerlukan kreativitas yang tinggi; (7) selalu
memerlukan umpan balik yang segera. la selalu ingin mengetahui hasil dari apa
yang dikerjakannya. Oleh karena itu, dalam memperbaiki kinerjanya, ia selalu
memiliki kemauan untuk menggunakan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya dan
selalu belajar dari kegagalan; (8) memiliki tingkat energi yang tinggi,
wirausaha yang berhasil biasanya memiliki daya juang yang lebih tinggi
dibanding rata-rata orang lainnya, sehingga ia lebih suka kerja keras walaupun
dalam waktu yang relatif lama; (9) memiliki semangat kerja yang tinggi dan
tidak mudah putus asa; (10) berorientasi pada masa yang akan datang, untuk
tumbuh dan berkembang, ia selalu berpandangan jauh ke masa depan yang lebih
baik; (11) belajar dari kegagalan, wirausaha yang berhasil tidak pernah takut
gagal. la selalu memfokuskan kemampuannya pada keberhasilan; (12) memiliki
ketrampilan memimpin orang lain.

Disamping terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam kewirausahaan seperti
disebutkan diatas, juga terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi
kegagalannya. Kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi
wirausaha. Menurut Zimmerer (1996), beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha
gagal dalam menjalankan usaha antara lain: (1) tidak kompeten atau tidak
memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab
utama yang membuat perusahaan kurang berhasil; (2) kurang berpengalaman baik
dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan
mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan
mengintegrasikan operasi perusahaan; (3) kurang dapat mengendalikan keuangan,
faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas, mengatur
pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan ini akan menghambat
operasional dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar; (4) gagal dalam
perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal
dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan; (5) lokasi
yang kurang memadai. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan
sukar beroperasi karena kurang efisien; (6) kurangnya pengawasan peralatan.
Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak
efektif; (7) sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang
setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan
menjadi labil dan gagal; (8) ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi
kewirausahaan.

 

 

B.     
UPAYA MENUMBUHKAN JIWA
KEWIRAUSAHAAN DI KALANGAN MAHASISWA

1.       Upaya
Menumbuhkan Minat dan Motivasi Berwirausaha

Semakin maju suatu negara semakin
banyak orang yang terdidik, dan banyak pula orang yang menganggur, maka semakin
dirasakan pentingnya dunia wirausaha. Pembangunan akan lebih berhasil jika
ditunjang oleh wirausahawan yang dapat membuka lapangan kerja karena kemampuan
pemerintah sangat terbatas. Oleh sebab itu, wirausaha merupakan potensi
pembangunan, baik dalam jumlah maupun dalam mutu wirausaha itu sendiri.
Sekarang ini kita menghadapi kenyataan bahwa jumlah wirausahawan Indonesia
masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat, sehingga upaya
pembangunan wirausaha di Indonesia merupakan persoalan mendesak bagi suksesnya
pembangunan nasional.

Minat berwirausaha perlu dan harus
ditumbuhkembangkan di kalangan masyarakat termasuk mahasiswa karena memiliki
manfaat banyak sekali antara lain: (1) menambah daya tampung tenaga kerja,
sehingga dapat mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat;
(2) meningkatkan produktivitas, dengan menggunakan metode baru, maka wirausaha
dapat meningkatkan produktivitasnya; (3) meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
menciptakan pekerjaan. Wirausaha serta usaha kecil memberikan lapangan kerja
yang cukup besar sehingga dapat memberi kontribusi terhadap pertumbuhan
ekonomi; (4) menciptakan teknologi baru dan menciptakan produk dan jasa baru.
Banyak wirausaha yang memanfaatkan peluang dengan menciptakan produk atau jasa
baru. Kalaupun mereka masih mempertahankan produk lama, produk tersebut
merupakan produk yang sudah diperbaiki; (5) mendorong inovasi, meskipun
biasanya mereka tidak menciptakan sesuatu yang baru, tetapi mereka dapat
mengembangkan metode atau produk yang inovatif.

Salah satu upaya untuk mewujudkan
kemandirian dan ketangguhan ekonomi nasional adalah melalui pengembangan,
pemantapan sikap, perilaku dan kemampuan serta minat berwirausaha. Dengan
berkembangnya minat dan lahirnya wirausaha-wirausaha nasional akan menjadi
penggerak roda perekonomian nasional serta memacu pertumbuhan ekonomi nasional
yang pada gilirannya akan memperkuat struktur perekonomian nasional. Upaya ini
perlu didukung oleh semua kalangan baik unsur pemerintah, masyarakat termasuk
mahasiswa maupun dunia usaha secara terarah dan berkesinambungan.

Di Amerika ada budaya keinginan
seseorang untuk menjadi bos sendiri, memiliki peluang individual, menjadi
sukses dan menghimpun kekayaan, ini semua merupakan aspek yang utama dalam
mendorong berdirinya kegiatan kewirausahaan. Di negara lain motivasi utama
mendirikan bisnis bukan mencari uang semata akan tetapi karena faktor
lingkungan yang banyak dijumpai berbagai macam perusahaan, lingkungan semacam
ini sangat mendorong pembentukan kewirausahaan. Dorongan membentuk wirausaha
juga datang dari teman pergaulan, lingkungan famili, dan sahabat. Mereka dapat
berdiskusi tentang ide wirausaha, masalah yang dihadapi dan cara-cara mengatasi
masalahnya. Pendidikan formal dan pengalaman bisnis kecil-kecilan yang dimiliki
oleh seseorang dapat menjadi potensi utama untuk menjadi wirausaha yang
berhasil.

Beberapa motivasi yang mendorong
seseorang berwirausaha antara lain: (1) alasan keuangan, yaitu untuk mencari
nafkah, untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan; (2) alasan
sosial, yaitu untuk memperoleh gengsi/status untuk dapat dikenal dan dihormati,
agar dapat bertemu dengan orang banyak; (3) alasan pelayanan yaitu untuk
memberi pekerjaan pada masyarakat, untuk membantu ekonomi masyarakat, untuk
masa depan anak dan keluarga,; (4) alasan pemenuhan diri, yaitu untuk menjadi
atasan mandiri, untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, untuk
mencapai sesuatu yang diinginkan, untuk menjadi lebih produktif, untuk menggunakan
kemampuan pribadi atau berprestasi.

 

2.       CARA
MENUMBUHKAN KEWIRAUSAHAAN DI KALANGAN MAHASISWA

Menumbuhkembangkan kewirausahaan di
kalangan mahasiswa dapat dilaksanakan melalui:

1.      
Kurikulum
Perguruan Tinggi.

Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam kurikulum
perguruan tinggi perlu dimasukkan mata kuliah kewirausahaan pada program studi.
Dengan dicantumkan dalam kurikulum pada program studi, maka secara kurikuler
para mahasiswa dapat belajar tentang berbagai teori dan pengetahuan serta
ketrampilan kewirausahaan yang dapat dijadikan bekal dalam menekuni dan terjun
ke dunia kewirausahaan baik selama menjadi mahasiswa dan terutama setelah
mereka menyelesaikan studi.

2.      
Pendirian
Koperasi Mahasiswa.

Menurut
UU Koperasi no.25 tahun l992, koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan
orang-orang atau badan hukum dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas
kekeluargaan. Fungsi dan peran koperasi adalah sebagai berikut: (1) membangun
dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya;
(2) berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat; (3) memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar
kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko
gurunya; (4) berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional
yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi
ekonomi. Peran koperasi dalam perekonomian nasional, meskipun belum pada
tingkat yang tinggi, dewasa ini menunjukkan arah yang jelas. Koperasi semakin
dipacu dengan kegiatan usahanya pada berbagai sektor, kegiatan koperasi yang
dikelola saat ini telah mencakup bidang produksi, pengolahan, industri kecil, distribusi
barang dan jasa serta kerajinan rakyat. Wirausaha koperasi merupakan orang yang
mempunyai kemampuan dan kemauan inovasi atau mendapatkan strategi bagi
pengembangan koperasi, sehingga diharapkan koperasi akan mempunyai keunggulan
bersaing dari badan usaha lain yang menjadi pesaingnya. Dalam kegiatan kampus
perlu ditumbuhkembangkan koperasi mahasiswa. Dengan didirikan koperasi
mahasiswa, maka secara praktek para mahasiswa dapat belajar tentang berbagai
pengetahuan dan ketrampilan usaha yang dapat dijadikan bekal dalam menekuni dan
terjun ke dunia kewirausahaan baik selama menjadi mahasiswa dan terutama
setelah mereka menyelesaikan studi.

3.      
Kerja
Sampingan Bagi Mahasiswa

Mahasiswa
bisa cepat menyesuaikan diri dengan dunia kerja jika sebelumnya sudah terbiasa
bekerja. Hal inilah yang menginspirasi banyak mahasiswa untuk mencari kerja
sampingan saat masih kuliah. Di antara mereka ada yang kerja sampingan sesuai
dengan bidang studi yang diambil, misalnya mahasiswa Sastra Inggris yang
mengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus bahasa. Tetapi ada juga
mahasiswa yang kerja sampingannya sama sekali tidak ada hubungan dengan bidang
ilmu mereka, misalnya mahasiswa Hukum yang memilih kerja sampingan sebagai
model. Ada banyak alternatif pekerjaan yang bisa dilakukan seorang mahasiswa
sambil kuliah, misalnya pengajar privat, penerjemah, fotografer, jurnalis,
model, pedagang, desainer, penyiar radio, instruktur olah raga, penulis,
programmer, teknisi komputer, pemandu wisata, Master of Ceremony atau MC,
terlibat dalam kepanitiaan sebuah event organizer, dan lain sebagainya. Beberapa
jenis kerja sampingan yang bisa dilakukan mahasiswa antara lain: (1) kerja
sampingan dengan background ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, misalnya
menjadi pengajar bahasa dan penerjemah bagi mahasiswa sastra, menjadi teknisi
komputer bagi mahasiswa ilmu komputer, menjadi reporter bagi mahasiswa
jurnalis, dan lain sebagainya; (2) kerja sampingan yang didasarkan pada bakat
dan keahlian, misalnya seorang mahasiswa bidang kajian ilmu sejarah bisa
menjadi penulis jika ia memang berbakat, atau seorang mahasiswa hukum yang
menjadi model karena merasa memiliki bakat di bidang tersebut; (3) kerja
sampingan karena ada peluang dan kesempatan, biasanya jenis kerja sampingan ini
tak mengenal keahlian ataupun bidang kajian tertentu, misalnya seorang
mahasiswa yang menjadi pedagang pulsa, atau yang menjadi tenaga freelance pada
sebuah event organizer.

Biasanya
jika mahasiswa sudah melakukan satu jenis pekerjaan akan mudah untuk mencoba
pekerjaan lainnya. Masa kuliah adalah saat yang tepat untuk mengeksplorasi
bakat, keahlian, serta kemampuan pada berbagai bidang pekerjaan. Ada banyak
keuntungan yang dapat diperoleh jika memutuskan untuk bekerja sejak masih di
bangku kuliah, salah satunya bisa memperoleh tambahan uang saku, bahkan tidak
jarang hasil dari kerja sampingan yang dilakukan bisa digunakan untuk membiayai
kuliah sendiri. Selain keuntungan finansial, kerja sampingan dapat dijadikan
ajang “pemanasan” sebelum terjun ke dunia kerja. Bekerja sampingan juga dapat
dijadikan batu loncatan untuk mencapai cita-cita, misalnya bekerja sampingan
sebagai model agar kelak bisa menjadi bintang sinetron dan pemain film, atau
menjadi penyiar radio agar bisa menjadi pembawa acara di televisi. Para
mahasiswa yang kerja sampingan sambil kuliah biasanya adalah orang-orang yang
memiliki visi ke depan, mereka tidak mau berpangku tangan, mereka orang-orang
yang aktif.

Upaya
menumbuhkembangkan kewirausahaan di kalangan mahasiswa ini untuk: (1)
meningkatkan kualitas daya saing alumni dalam pasar kerja; (2) memfasilitasi
mahasiswa dalam hal menemukan karir di dunia kerja; (3) membangun dan
mengembangkan mahasiswa atau calon alumni sebelum terjun ke dunia kerja; (4)
memberikan pengalaman berwirausaha; (5) mengurangi masa tunggu lulusan; (6)
memperpendek masa penyesuaian saat bekerja; (7) membina calon “pemimpin” di
dunia usaha atau pencipta kerja.

 

4.       KESIMPULAN

Berdasarkan
uraian di atas, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.      
Kewirausahaan
dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new
and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses, dan perjuangan
untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian
untuk menghadapi resiko. Kewirausahaan pada dasarnya adalah semangat, sikap,
perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang
mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan
produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan
yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang maksimal.

2.      
Beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan kewirausahaan adalah sebagai
berikut: (1) memiliki komitmen yang tinggi dan tekad yang kuat; (2) berambisi
untuk mencari peluang; (3) memiliki semangat kerja yang tinggi dan tidak mudah
putus asa; (4) percaya diri yang kuat; (5) memiliki kreativitas yang tinggi;
(6) memiliki kemampuan melihat masa depan dengan perencanaan yang tepat; (7)
tahan terhadap resiko dan ketidakpastian; (8) memiliki kemampuan memimpin orang
banyak. Sedangkan beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan kewirausahaan
adalah sebagai berikut: (1) tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan mengelola usaha; (2) kurang berpengalaman baik dalam kemampuan
teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan,
keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan
operasi perusahaan; (3) kurang dapat mengendalikan keuangan; (4) perencanaan
yang kurang tepat; (5) lokasi dan peralatan yang kurang memadai; (6) sikap yang
kurang sungguh-sungguh dalam berusaha; (7) ketidakmampuan dalam melakukan
peralihan/transisi kewirausahaan.

3.      
Berbagai
upaya yang dapat ditempuh untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan di kalangan
mahasiswa adalah: (1) dicantumkan mata kuliah kewirausahaan dalam kurikulum
setiap program studi di perguruan tinggi yang secara kurikuler wajib diikuti
oleh semua mahasiswa; (2) kerjasama dengan UMKM; (3) pendirian Koperasi
Mahasiswa; dan (4) pelaksanaan kerja sampingan mahasiswa baik sesuai dengan
bidang ilmunya atau sesuai dengan bakat dan hobinya meskipun tidak sesuai
dengan bidang ilmunya.

 

 

5.    REFERENSI

 

Buchari
Alma, 2006, Kewirausahaan, Alfabeta, Bandung

 

Eddy
Soeryanto Soegoto, 2014, Entrepreneurship
Menjadi Pebisnis Ulung, Gramedia, Jakarta

 

Mas’ud
M, 2005, Kewirausahaan, BPFE, Yogyakarta.

 

Panji
A dan Djoko S, 2002, Koperasi, Kewirausahaan, dan Usaha Kecil, Bineka
Cipta, Jakarta.

 

Rani
Kusawara, 2007, Bisnis Sampingan untuk Mahasiswa, Trans Media Pustaka,
Jakarta.

 

Suryana,2003,
Kewirausahaan, Salemba Empat, Jakarta. 

Author: