BAB energi merupakan sebuah permasalahan global yang telah

BAB 1

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

1.1  Latar Belakang

Kebutuhan
akan energi tak bisa dipungkiri lagi, khususnya energi listrik dan seluruh
dunia pun membutuhkannya, tak terkecuali di Indonesia. Semakin berkembang
teknoligi, maka kebutuhan akan energi listrik semakin menjadi bagian kebutuhan
hidup masyarakat yang tak terpisahkan. Hari demi hari pun terlewati, kebutuhan
akan energi listrik pun semakin meningkat. Tak hanya di pelosok Indonesia, di
kota-kota besar yang ada di negara indonesia pun semakin meningkat, dari mulai
kebutuhan primer hingga kebutuhan sekunder pun hampir semuanya membutuhkan energi,
khususnya energi listrik.

Tenaga
listrik merupakan sebuah tenaga yang memiliki peran yang sangat penting dalam
mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Usaha penyediaan tenaga listrik
dikuasai oleh negara dan penyediaannya perlu terus ditingkatkan sejalan dengan
perkembangan pembangunan agar tersedia tenaga listrik dalam jumlah yang cukup,
merata, dan bermutu.

PT.
PLN merupakan sebuah lembaga resmi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk
melakukan penyediaan kebutuhan energi listrik di Indonesia. Namun, hingga saat
ini kebutuhan masyarakat akan energi listrik secara keseluruhan masih belum
bisa terpenuhi.

Krisis
energi merupakan sebuah permasalahan global yang telah menjadi tugas harian
pemerintah dari tahun ke tahun. Pada dasarnya Indonesia merupakan sebuah negara
yang dikelilingi oleh sumber daya alam yang sangat melimpah, namun terbatas. Sedangkan
secara keseluruhan pembangkit listrik yang ada di Indonesia paling banyak
menggunakan energi yang berasal dari bahan bakar fosil sebagai penggerak
turbinnya.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.     Apa
pengertian energi dan apa penyebab krisis energy?

2.     Bagaimana
kondisi energi listrik di Indonesia?

3.     Bagaimana
sudut pandang pancasila dan kewarganegaraan mengenai krisis energi?

4.     Siapa
saja yang dapat ikut berperan untuk menyelesaikan masalah krisis energi?

5.     Upaya
apa saja yang dapat dilakukan?

 

1.3  Tujuan

1.     Mencegah
pemakaian bahan bakar fosil yang berlebihan.

2.     membentuk
masyarakat yang lebih mandiri dan menjadikan wilayah desa sebagai wilayah yang
edukatif.

3.     membentuk
tenaga ahli yang lebih banyak dan berkualitas.

4.     Mengurangi
pengeluaran warga Negara Indonesia.

 

1.4  Manfaat

1.     Bahan
bakar fosil dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lain.

2.     Terciptanya
masyarakat yang mandiri dan juga terciptanya wilayah yang edukatif bagi semua
kalangan.

3.     Terciptanya
tenaga ahli yang lebih bermutu di Indonesia dengan jumlah yang lebih banyak.

4.     Berkurangnya
pengeluaran warga dan juga dapat dijadikan sebagai destinasi wisata.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian Energi

Energi
adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu energon yang berarti
kerja. Jadi, energi juga dapat diartikan sebagai kemampuan suatu objek untuk melakukan
kerja atau usaha. Segala sesuatu yang dilakukan oleh suatu benda pasti
memerlukan energi. Oleh karena itu, energi sangatlah dibutuhkan oleh semua
benda yang ada di alam semesta ini, tak terkecuali bagi manusia. Energi yang
terdapat di alam semesta ini tersedia dalam berbagai bentuk, seperti energi
kimia, energi listrik, energi panas, dan lain-lain. Hukum termodinamika 1
mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, energi hanya
dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Jadi, energi akan
berguna jika ada perubahan bentuk dari satu bentuk energi ke energi lain.
Misalnya, setrika listrik akan berguna jika terjadi perubahan energi listrik
menjadi energi panas.

Sumber
energi yang ada di alam semesta ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sumber energi
terbarukan (an energy source that can
be easily replenished) dan sumber energi tak terbarukan (an energy source that cannot be easily
replenished). Sumber energi tak terbarukan contohnya adalah
minyak bumi atau bahan bakar fosil lainnya, sedangkan sumber energi terbarukan
contohnya seperti air, angin, panas bumi, sinar matahari, dll.

Sumber
energi terbarukan dan sumber energi tak terbarukan tersebut dapat kita gunakan
sebagai sumber energi primer untuk menghasilkan energi yang berguna seperti
panas atau kita pun dapat menggunakannya untuk menghasilkan sumber energi
sekunder seperti listrik.

Seperti
yang kita tahu, sekarang merupakan zaman dimana teknologi merupakan sebuah
kebutuhan yang tak bisa dihindarkan lagi, hampir semua orang membutuhkan
teknologi yang canggih, hari demi hari pun terklewati dan teknologi pun semakin
dikembangkan. Semakin canggih teknologinya maka akan semakin hemat energi,
namun jika jumlah barang yang digunakan sangat banyak maka energi yang
dibutuhkan pun semakin banyak pula.

Setiap
manusia yang menggunakan perangkat elektroniknya pasti menggunakan energi listrik,
seperti yang kita ketahui bahwa energi listrik ini berasal dari sumber energi
yang terbarukan dan tak terbarukan, namun di Indonesia kebanyakan energi
dihasilkan dari sumber energi tak terbarukan misalnya seperti batu bara,
sehingga apabila jumlah batu bara yang ada di alam ini menipis, maka energi
listrik yang ada di Indonesia pun mengalami sebuah masalah yang bernama krisis
energi.

 

2.2  Kondisi Energi Listrik di Indonesia

Di bidang ketenagalistrikan, saat ini kondisi
cadangan kapasitas tenaga listrik secara nasional masih pada tingkat yang cukup
mengkhawatirkan, baik pada sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) maupun pada sistem
luar Jamali. Di beberapa wilayah kapasitas terpasang dan cadangan listrik
(reserved margin) belum dapat memenuhi kebutuhan, terlebih lagi masih tingginya
ketergantungan pasokan pada BBM yang sangat terbatas. Untuk mengatasi krisis
yang terjadi pada sistem Jamali telah diupayakan dengan meningkatkan kapasitas
pembangkit yang ada serta pembangunan pembangkit baru berikut jaringan
transmisi dan distribusinya, tetapi pada umumnya pembangunan tersebut memakan
waktu yang cukup lama sehingga belum dapat secara cepat mendukung peningkatan
kapasitas. Sementara itu, untuk sistem luar Jamali diupayakan pula pembangunan
pembangkit skala kecil dengan memanfaatkan potensi energi setempat/lokal,
terutama untuk daerah-daerah terpencil, terisolasi, dan daerah perbatasan
(remote areas) dan belum terinterkoneksi (offgrid). Potensi energi setempat ini
perlu terus dikembangkan mengingat persentase pemanfaatannya yang masih rendah
karena belum kompetitif jika dibandingkan dengan energi konvensional terutama
energi yang disubsidi kecuali tenaga air skala besar dan panas bumi.

Di bidang pembangunan listrik perdesaan, sampai
dengan akhir tahun 2016 rasio elektrifikasi telah mencapai 91,16%. Beberapa
kendala dalam pembangunan listrik perdesaan adalah kondisi geografis, kurangnya
kemampuan pendanaan pemerintah, serta letak pusat beban yang jauh dari
pembangkit listrik dan tingkat beban yang secara teknis dan ekonomis belum
layak untuk dipasok oleh pembangkit skala besar. Selanjutnya untuk menunjang
kelangsungan pembangunan tenaga listrik yang berkesinambungan dilakukan dengan
melaksanakan restrukturisasi sektor ketenagalistrikan agar sektor itu mampu
berkembang dan menyediakan tenaga listrik secara efisien dan berkualitas
sehingga memberikan manfaat bagi konsumen serta mandiri secara finansial bagi
penyedia jasa tenaga listrik. Salah satu kebijakan dari restrukturisasi adalah
menyesuaikan tarif listrik secara bertahap menuju nilai keekonomiannya. Hal itu
diharapkan dapat mengundang partisipasi pihak swasta untuk berinvestasi di
bidang kelistrikan, terutama untuk pembangkit. Bentuk partisipasi ini dapat
dilihat melalui pemanfaatan pembangkit swasta (Independent Power
Producer’s/IPP’s).

Pada Tahun 2015 rasio elektrifikasi Indonesia sudah
mencapai 87,35%, sedangkan pada Tahun 2016 dengan penambahan jumlah rumah
tangga berlistrik menjadi 60,6 juta rumah tangga, rasio eletrifikasi meningkat
menjadi 91,16% yang artinya terjadi peningkatan rasio elektrifikasi mencapai
3,81%.

Masih terdapat 2 provinsi yang rasio
elektrifikasinya sampai dengan akhir tahun 2016 masih dibawah 70% yaitu,
provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua

Pada masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan yang
belum berkembang, terpencil, perbatasan dan yang berlokasi di pulau kecil yang
belum mendapatkan pelayanan listrik, untuk mempercepat elektrifikasi pada
daerah tersebut dilakukan dengan melibatkan peran pemerintah daerah dan
partisipasi badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, koperasi, dalam usaha
penyediaan tenaga listrik yang terintegrasi skala kecil di daerah tersebut
melalui penetapan wilayah usaha. Selain dengan rasio elektrifikasi, untuk
mengukur tingkat ketersediaan tenaga listrik terutama dalam sebuah desa adalah
dengan menggunakan rasio desa berlistrik. Rasio desa berlistrik didapatkan
dengan cara membandingan antara jumlah desa yang sudah menikmati tenaga listrik
dengan jumlah total desa. Selain itu sedang dilakukan upaya percepatan
melistriki desa sampai dengan tahun 2019 sebanyak 2500 desa. Rasio desa
berlistrik selama tahun 2016 masih sama dengan tahun 2015 yaitu 96,95%

Tambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik (sinkron
s.d operasi) pada tahun 2016 yaitu sekitar 4.128,2 MW, di mana tambahan
kapasitas pembangkit tenaga listrik tersebut diperoleh dari pelaksanaan Program
35.000 MW dan Program Reguler (PLN dan Independent Power Producer-IPP).

Dilihat dari target tambahan kapasitas pembangkit
pada tahun 2016 sebesar 4.212 MW, realisasi pembangkit (sinkron s.d operasi)
mencapai 4.128,2 MW atau 98,01%. Tidak tercapainya target 100% ini antara lain
dikarenakan beberapa proyek yang mengalami kerusakan peralatan sehingga mengalami
kemunduran penyelesaian pekerjaan. Berdasarkan capaian tambahan kapasitas
pembangkit tahun 2016 (sinkron s.d operasi) sebesar 4.128,2 MW ditambahkan
dengan kapasitas terpasang tahun 2015 sebesar 55.528 MW, sehingga total
kapasitas terpasang tahun 2016 sebesar 59.656,2 MW.

 

2.3  Sudut Pandang Pancasila dan
Kewarganegaraan

Ø  Pancasila
sila ke-2 “Kemanusiaan yang adil dan beradab”

Sila ini memerinahkan
kita sebagai manusia agar bertindak adil dan juga beradab, bukan hanya dalam 1
atau 2 aspek saja, tetapi juga dalam segala aspek, dan salah satunya dalam
aspek penggunaan energi. Jika kita adil dan beradab maka kita akan memikirkan
saudara kita yang berada pada daerah yang belum teraliri oleh aliran listrik.
Oleh sebab itu kita harus menggunakan energi listrik dengan bijaksana, karena
jika kita boros menggunakan energi listrik maka itu berarti kita juga boros
dalam menggunakan bahan bakar fosil yang ada di alam semesta ini, dan seperti
yang kita ketahui bahwa bahan bakar fosil ini jumlahnya terbatas.

Ø  Pancasila
sila ke-3 “Persatuan Indonesia”

Sila ini mengajarkan
kita semua agar bersatu, tidak ada perselisihan, dan tak ada salah paham. Agar
tak terjalin permusuhan yang diakibatkan kesalahpahaman maka diperlukanlah
komunikasi yang baik. Untuk bisa berkomunikasi dari satu daerah ke daerah lain
maka diperlukanlah teknologi. Pada era ini teknologi sangatlah penting sehingga
terus-menerus dikembangkan. Indonesia akan maju tentunya jika mengikuti
perkembangan zaman. Semua teknologi ini membutuhkan energi, tak terkecuali energi
listrik. Energi listrik ini tak hanya diperlukan untuk berkomunikasi, tetapi
juga untuk kegiatan belajar, mencuci pakaian, media hiburan, bahkan membuat
makanan pun memerlukan listrik. Sehingga Indonesia akan lebih maju jika energi
listrik teraliri hingga seluruh pelosok Indonesia.

Ø  Ketenagalistrikan
ini diatur oleh undang-undang republik indonesia nomor 30 tahun 2009.
Berdasarkan UUD 1945 pasal 5 ayat (1), pasal 18, pasal 20, dan pasal 33 maka
atas persetujuan bersama DPR RI dan presiden RI akhirnya menetapkan undang
undang tentang ketenagalistrikan yang terdiri atas 17 bab dan 58 pasal yang
telah disahkan di Jakarta pada tanggal 23 September 2009.

2.4   Upaya yang Dapat Dilakukan

·       Sumber
energi terbagi menjadi 2, yaitu sumber energi renewable dan sumber energi
nonrenewable. Dalam hal ini sumber energi nonrenewable semakin banyak digunakan
maka ketersediaannya di alam pun akan semakin menipis. Untuk itu maka untuk
menghindari krisis energi maka pembangkit tenaga listrik dari sumber energi
renewable yang ramah lingkungan seperti matahari, angin, dan air harus
digalakkan.

·       Pemberlakuan
subsidi silang untung menggalang dana yang selanjutnya dana tersebut akan
digunakan untuk membangun pembangkit listrik mandiri dari sumber energi
renewable di pedesaan.

·       Analisis
dan evaluasi mengenai kebijakan dan perencanaan energi menggunakan bantuan
aplikasi LEAP (Long-Range Energy Alternatives Planning system).

·       Setelah
dana subsidi terkumpul pemerintah menyalurkan dana subsidi tersebut kepada
kepala daerah untuk selanjutnya digunakan untuk pembelian sejumlah perangkat
pembangkit listrik tenaga matahari dan juga angin atau bahkan air, para
mahasiswa disini pun akan ikut terjun beserta arga sekitar dan juga tenaga ahli
dari pemerintah untuk pemasangan dan perakitan setiap komponen, dan pembangkit
tenaga listrik mandiri ini akan dikelola oleh warga sekitar yang akan dibantu
oleh para mahasiswa yang telah berpengalaman. Setelah semua tercapai maka desa
tersebut pun dapat dijadikan sebagai tempat wisata yang edukatif.

2.5  Tokoh yang Dapat Ikut Berperan

v Pemerintah
pusat, terdiri atas :

§  Kementrian
Energi dan Sumber Daya Mineral akan dapat mencapai target pemerataan energi
listrik di Indonesia, dan membuat aturan untuk subsidi silang antara rakyat di
perkotaan dengan rakyat di pedesaan yang belum teraliri aliran listrik.

§  Kementrian
Ekonomi akan menganalisis dana dan faktor ekonomi lainnya dalam mengimplementasikan
pembangkit listrik di pedesaaan yang edukatif.

§  Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian Pariwisata akan dapat bekerjasama
untuk membangun tempat pembangkit tenaga listrik di pedesaan yang edukatif bagi
warga sekitar maupun warga dari daerah lainnya.

§  Kementerian
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi akan dapat memajukan
daerah yang tertinggal menjadi sebuah daerah yang mandiri apabila pada daerah
tersebut dibangun pembangkit tenaga listrik yang dijadikan sebagai tempat
wisata yang edukatif.

§  Kementrian
Ketenagakerjaan akan dapat meningkatkan penempatan tenaga kerja dan perluasan
kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia.

v Mahasiswa

Dalam hal ini mahasiswa dapat membantu
pemerintah untuk proses perakitan dan juga pemasangan komponen-komponen
pembangkit tenaga listrik tersebut. Selain itu juga mahasiswa tersebut untuk
diajarkan berinovasi untuk terus mengembangkan teknologi yang ada, sehingga hal
ini akan menambah pengalaman para mahasiswa, selain itu juga mahasiswa tersebut
pun akan dapat menjadi seorang tenaga ahli yang dapat diandalkan oleh
Indonesia.

v Warga

Dalam hal ini warga berperan untuk melakukan
perawatan dan pengelolaan pembangkit listrik yang ada di desanya.

Author:

x

Hi!
I'm Eileen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out