JAWABAN5. semakin seru dan menarik. Rasa penasaran yang

JAWABAN5.  Berangkat dari definisi moral panic itu sendiri, dalam thoughtco.com disebutkan bahwa moral panic adalah suatu keadaan dimana seseorang mengidap kegelisahan, rasa takut dan panik secara berlebihan. Rasa gelisah, takut, dan panik tersebut sering tidak rasional. Orang yang terinjeksi moral panic ini merasa bahwa segala sesuatu yang ada di sekitarnya adalah ancaman baginya, serta merasa bahwa dunia ini sudah tidak aman lagi. Teori sosial atau konsep kepanikan moral yang disebutkan oleh Stanley Cohen mulai dikembangkan dan dipopulerkan ketika adanya fenomena sosial yang melatar belakangi terjadinya konflik oleh pemuda antara kaum mods dan kaum rockers, terjadi di Inggris pada tahun 1960-an. Kejadian tersebut disebabkan karena pada masa itu, Inggris sedang mengalami kondisi ekonomi yang kurang baik. Karya Cohen tersebut menggambarkan bagaimana reaksi dalam mempengaruhi formasi dan penegakan hukum sosial, hukum, dan persepsi masyarakat tentang ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok pemuda (Bonn, 2015). Kepanikan moral ini biasanya diabadikan oleh media yang didorong oleh politisi, dan sering berakibat pada berlakunya undang-undang atau kebijakan baru yang menargetkan sumber menjadi panik sehingga munculnya kepanikan moral ini membuat peningkatan kontrol sosial yang lebih mudah (Crossman, 2017).Saya ingin menceritakan pendapat atau pandangan Saya pribadi ketika melihat konten atau tayangan kekerasan. Ketika Saya melihat tayangan kekerasan Saya merasa tegang dan jiwa adrenalin Saya pun sedikit demi sedikit mulai terpacu. Perasaan tegang tadi membuat Saya fokus dan tingkat penasaran Saya pun semakin meningkat. Ditambah lagi dengan adanya efek-efek dari visual maupun audionya yang membuat tayangan kekerasan tersebut menjadi semakin seru dan menarik. Rasa penasaran yang Saya sebutkan tadi pun membuat Saya bertahan untuk tetap menonton tayangan tersebut karena Saya penasaran bagaimana akhir dari tayangan itu, siapa pemenangnya, dan apa penyebab dari terbunuhnya lawan dalam tayangan tersebut. Dari situ Saya mulai menelaah, ternyata secara tidak langsung, adanya sensasi tegang yang hadir ke dalam diri kita, membuat kita fokus terhadap suatu tayangan yang kita konsumsi. Semakin lama kita mendapatkan terpaan dari tayangan tersebut, semakin lama kita pun akan menjadi sangat fokus, dan tayangan tersebut dapat terekam secara total. Bahkan, ada kemungkinan kita pun akan sulit untuk melupakannya karena tayangan tersebut kuat sekali terekam di dalam otak kita.Di dalam tayangan kekerasan, terkadang juga di beberapa adegannya ada semacam atraksi-atraksi dalam proses melakukan kekerasannya itu sehingga orang yang menontonnya akan beranggapan bahwa hal itu keren dan mungkin si penonton ini akan mencoba atraksi-atraksi dalam adegan tersebut. Padahal, kita tahu bahwa hal tersebut hanya film biasa, para pemainnya pun pasti sudah dilatih, dan keamanan dari properti yang mereka gunakan sudah terjamin. Rasa penasaran itu juga membuat si pengonsumsi konten media ingin iseng-iseng mencoba, mungkin mereka ingin mengetahui bagaimana sensasinya secara langsung. Di samping itu, konten kekerasan media juga dapat memberikan efek kepada penontonnya berupa rasa takut akan hal yang serupa dengan apa yang ada di dalam konten media kekerasan terjadi di kehidupan nyata. Sebagaimana yang disebutkan dalam teori kultivasi bahwa efek dari terpaan media secara terus menerus dapat mengonstruksi atau membentuk realitas terhadap audiens-nya. Pernah Saya dapatkan, pendapat narasumber saat melakukan wawancara pada waktu itu. Ia mengatakan bahwa setelah ia menonton tayangan kekerasan, ia tidak berani untuk tidur sendiri karena ia takut jika tiba-tiba datang penjahat yang mengendap-ngendap masuk ke dalam kamarnya. Selain itu juga, ia takut jika ada penjahat yang mengikutinya sampai ke rumah, kemudian penjahat tersebut tiba-tiba menerornya dan berusaha menggedor-gedor pintu kamarnya untuk membunuhnya.Solusi yang menurut Saya sesuai dengan topik ini adalah dengan peningkatan yang lebih maksimal lagi terhadap sensor, baik itu sensor secara visual maupun audionya. Mengapa? Karena menurut Saya, efek-efek yang ada dalam konten kekerasan itu memberikan sensasi-sensasi seru dan menarik kepada penontonnya sehingga mereka fokus dan penasaran, tidak ingin tertinggal atraksi-atraksi yang hebat dari konten kekerasan tersebut. Mungkin dengan ditiadakannya efek-efek visual dan audio dari konten kekerasan tersebut, orang-orang yang menonton akan lebih tidak terlalu fokus memperhatikan tayangan kekerasan itu tadi. Mungkin, beberapa pihak yang ada di luar sana merasa dirugikan dengan adanya sensor semacam itu. Makanya, perlu adanya juga larangan menonton kekerasan di bawah umur. Kita tahu sekarang ini banyak pula kartun-kartun yang mengandung unsur kekerasan. Mungkin, kartun-kartun yang seperti itu dapat dilakukan sensor secara visual maupun audionya karena anak di bawah umur pun belum begitu paham dengan kehadiran sensor yang semacam itu. Solusi terakhir yang Saya rekomendasikan adalah dengan menayangkan behind the scene dari proses pembuatan tayangan kekerasan itu agar para penonton mengetahui atraksi-atraksi yang ada dalam konten kekerasan dan efek darah-darah yang keluar dari tubuh korban kejahatan dalam suatu film itu tidaklah nyata. Banyak properti-properti yang mendukung baiknya hasil dari konten kekerasan yang dibuat. Diharapkan dengan adanya behind the scene tersebut, penonton lebih sadar bahwa adegan dalam film kekerasan itu terdapat campur tangannya, tidak semerta-merta hanya melakukan kekerasan begitu saja tanpa ada tanggung jawabnya.1. Dalam KBBI disebutkan bahwa mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mnegandung penafsiran tentang asal usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut, serta mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib. Pengertian mitos dalam kajian media dan komunikasi menurut Barthes adalah suatu cara yang manusia gunakan untuk memaknai teks (Rio & Harahap, 2017). Mitos ini digunakan sebagai alat untuk melihat sudut pandang dari suatu teks, bukan melihat objek, konsep, ataupun idenya. Mitos tidak berdiri sendiri. Ia merupakan sistem semiologi yang dibangun berdasarkan rangkaian sistem semiologi terdahulu. Mitos juga memiliki prinsip, yaitu mengubah sejarah menjadi bersifat alamiah. Maksudnya di sini, sifat sejarah itu sendiri adalah hasil dari konstruksi realitas yang ada pada orang-orang terdahulu. Namun, mitos membuat orang-orang zaman sekarang menganggap bahwa sejarah tadi memang sudah secara alamiah terjadi. Padahal bukan seperti itu kenyataannya. Jadi, disebutkan bahwa mitos memiliki sifat mendistorsi realitas, bukan menyembunyikannya ataupun menutupinya. Karena perbedaan zaman antara kejadian yang dialami oleh orang terdahulu dengan pemikiran orang zaman sekarang yang menerima kisah dari kejadian tersebut berbeda, maka realitas itu pun akhirnya dapat terdistorsi.Dalam teks media juga memiliki beberapa ideologi, di antaranya ideologi Karl Max, ideologi Antonio Gramsci, dan ideologi Louis Althusser. Di antara para tokoh-tokoh tersebut, memiliki pandangan ideologi yang berbeda-beda. Dalam ideologi Karl Max menyebutkan  bahwa ide yang dibuat oleh penguasa kepada orang yang dikuasai ditujukan untuk menyokong dominasi suprastruktur dan membangun relasi produksi yang menguntungkan bagi mereka. Basis (mode produksi dan relasi produksi dalam masyarakat) dianggap menentukan suprastruktur (hukum, politik, dan budaya yang ada dalam masyarakat tersebut). Dalam ideologi Antonio Gramsci menyebutkan bahwa ideologi yang ditanamkan kaum dominan kepada kaum minoritas atau kaum yang dikuasai bertujuan untuk dapat diterima sebagai suatu kondisi yang wajar tanpa adanya paksaan, dan bersifat hegemoni. Dalam ideologi ini basis dan suprastruktur dianggap saling menentukan dan saling mempengaruhi, berkebalikan dengan yang disebutkan oleh Karl Marx. Sementara, dalam ideologi Louis Althusser terdapat dua tesis tentang ideologi. Pertama, ideologi merupakan suatu representasi dari hubungan antara imajiner individu dengan kondisi yang sebenarnya. Kedua, ideologi dapat dipengaruhi dan ditanamkan oleh individu yang memiliki eksistensi secara material dimana maksud dari hal tersebut adalah individu seperti polisi, tentara, hakim, institusi pendidikan, media massa, dan lainnya yang keberadaannya dianggap penting oleh banyak orang dan memiliki keberadaan dari segi material, mereka mampu mempertahankan kekuasaanya.Salah satu contoh teks media yang menurut Saya memiliki suatu ideologi tertentu adalah iklan Klinik Tong Fang. Dalam iklan Klinik Tong Fang, ia menayangkan testimoni-testimoni pasien yang menurut Saya cukup berlebihan. Salah satu testimoninya, disebutkan bahwa terdapat pasien yang mengidap penyakit diabetes selama dua belas tahun. Pasien ini sudah mencari pengobatan kesana kemari namun tidak juga kunjung sembuh. Setelah Ia ke Klinik Tong Fang,  penyakit yang Ia derita langsung bisa teratasi dan sembuh total hanya dengan mengikuti tiga paket pengobatan secara rutin. Testimoni lainnya juga mengatakan, terdapat pasien yang mengidap kanker rahim selama dua tahun. Sebelumnya, Ia telah berobat sampai ke luar negeri untuk menghilangkan kanker yang dideritanya itu, namun belum juga sembuh dan sering kambuh. Setelah berobat ke Klinik Tong Fang, kanker rahim yang dideritanya tidak kambuh lagi.Menurut Saya, iklan Klinik Tong Fang ini dapat dikaitkan dengan mitos dalam kajian media dan komunikasi yang telah dipelajari. Terlihat dari iklan tersebut yang menjanjikan dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kronis yang diderita oleh pasien secara ampuh hanya dengan menggunakan ramuan-ramuan herbal alami yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Padahal belum tentu juga Klinik Tong Fang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Klinik Tong Fang dianggap masyarakat sangat teruji. Padahal dokter yang sudah tersertifikasi dan terjamin keahlian serta kualitasnya saja, tidak bisa menjanjikan kesembuhan pasien secara total. Namun, beberapa masyarakat percaya saja dengan iklan yang disampaikan tentang Klinik Tong Fang dan mereka tergerak untuk mencoba berobat ke Klinik Tong Fang.Ideologi yang berkaitan dengan iklan Klinik Tong Fang ini menurut Saya adalah Ideologi Gramsci, dimana ideologi dianggap sebagai hal yang mendasari praktik-praktik sosial dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, media massa merupakan salah satu wadah atau tempat yang dapat digunakan untuk mengonstruksi teks media (narasi). Salah satu konsep yang dapat dilakukan untuk menyebarkan ideologi adalah Hegemoni, dimana masyarakat secara tidak langsung diserang melalui idenya sehingga mereka tidak menyadari hal tersebut dan menerima teks media begitu saja. Mungkin di lain sisi, iklan tersebut ingin menyampaikan tentang tradisi atau budaya pengobatan Cina yang populer di kalangan mereka sehingga masyarakat Indonesia tertarik, percaya, dan bahkan beralih untuk menggunakan pengobatan tradisional Cina yang menggunakan ramuan herbal alami dari Tiongkok. Akhirnya iklan tersebut berujung pada kepentingan ekonomi, dimana basis dan suprastruktur saling mempengaruhi satu sama lain (interaktif).(Source of Video: https://youtu.be/aAvEivZgHcU) REFERENSI:Bonn, Scott A. (2015). ‘Moral Panic: Who Benefits from Public Fear?’ (Retrieved from: https://www.psychologytoday.com/). Crossman, Ashley. (2017). ‘Definition of Moral Panic’ (Retrieved from: https://www.thoughtco.com/). Hasyim, Muhammad. (2014). ‘Konstruksi Mitos dan Ideologi dalam Teks Iklan Komersial Televisi, Suatu Analisis Semiologi’ (Tersedia di: https://repository.unhas.ac.id/). Rio, Adde Oriza & Atiqa Khaneef Harahap. (2017). ‘Teks Media: Mitos dan Ideologi Powerpoint’ (Retrieved from: https://elearning.universitaspertamina.ac.id/). Rio, Adde Oriza & Atiqa Khaneef Harahap. (2017). ‘Media dan Kekerasan Powerpoint’ (Retrieved from: https://elearning.universitaspertamina.ac.id/). 

Author:

x

Hi!
I'm Eileen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out