Kapal dibuat oleh pabrik es dan diangkut ke

Kapal penangkap ikan merupakan salah satu kapal yang
memegang peranan penting di negara maritim, seperti negara Indonesia. Terdapat
beberapa proses penting yang berada pada kapal penangkap ikan salah satunya
adalah proses penanganan hasil tangkapan ikan. Selama proses penangkapan ikan di
atas laut dibutuhkan penanganan hasil tangkapan ikan yang baik dan benar agar
menjaga kualitas ikan sehingga mendapatkan nilai jual yang tinggi. Ikan hasil
tangkapan harus dijaga kesegarannya sampai ikan tersebut sampai ke tempat
pengepul. Tingkat kesegaran ikan hasil tangkapan ditentukan dari fasilitas
pendukung yang ada di ruang muat kapal penangkap ikan. Dalam menjaga kesegaran
ikan, rata-rata menggunakan proses pendinginan atau pembekuan (Afrianto dan
Liviawaty, 1989).

Proses pendinginan atau pembekuan terdiri dari
berbagai macam cara dengan menggunakan es batu, air laut yang didinginkan dan
menggunakan mesin pendingin. Hal ini dikarenakan suhu ambien -1oC hingga
0 oC adalah suhu yang bagus untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Dalam
cara tradisional es batu dibuat oleh pabrik es dan diangkut ke dalam ruang muat
kapal ikan sebelum kapal berlayar, hal ini masih terus dipraktekkan terutama
untuk kapal penangkap ikan berukuran dibawah 30 GT. Untuk kapal penangkap ikan
berukuran diatas 30 GT untuk mendinginkan hasil tangkapan menggunakan mesin
pendingin yang mengadopsi daur kompresi uap.

Pada kapal ikan berukuran sedang yaitu 20 GT proses
pembekuan ikan masih menggunakan es batu, dimana ketika es batu digunakan
sebagai media pendingin, berdasarkan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian tahun 2010, perbandingan yang ideal
antara es batu dan ikan adalah 1 : 1. Hal ini berarti semakin besar ukuran
kapal maka semakin banyak jumlah es batu yang dibutuhkan sehingga menurunkan
jumlah muatan ikan selain itu es batu juga tidak bisa bertahan lama untuk
membekukan ikan. Penggunaan mesin pendingin dapat menjadi solusi untuk
membekukan ikan pada kapal 20 GT karena dapat menghemat tempat, mengurangi
biaya untuk pembelian es batu, dan memperpanjang lama waktu berlayar. Akan
tetapi, penggunaan mesin pendingin yang umum yaitu dengan daur kompresi uap
hanya menguntungkan jika digunakan di kapal berukuran besar, hal ini diakibatkan
oleh kebutuhan listrik yang besar untuk dapat menggerakan kompresor pada sistem
refrigerasi kompresi uap sehingga membutuhkan suplai listrik dari generator
atau aki berukuran besar yang tentunya akan menambah biaya dan beban pada
kapal. Selain itu, kelemahan dari daur kompresi uap adalah penggunaan
refrigeran yang mahal dan sering ditemukan kebocoran refirgeran pada sistem ini
serta adanya Protokol Montreal tahun 2007 yang menghendaki untuk mempercepat
penghapusan refrigeran halokarbon yang sering digunakan pada sistem kompresi
uap (Ananthanarayanan, 2013). Hal ini menjadi tidak menguntungkan dari segi
teknis maupun ekonomis untuk kapal berukuran 20 GT. Oleh karena itu, penggunaan
mesin pendingin yang cocok untuk kapal ikan 20 GT adalah dengan menggunakan
sistem refrigerasi absorpsi.

Sistem refrigerasi absorpsi diperkirakan dapat
menjawab kebutuhan proses pendinginan ikan pada kapal ikan 20 GT karena
memiliki beberapa keunggulan dibanding refrigerasi kompresi uap, yaitu pada daur
absorpsi memanfaatkan panas sebagai sumber energi utama untuk menjalankan
sistem dan suplai listrik yang rendah untuk menjalankan pompa yang berukuran
kecil. Panas pada kapal dapat didapatkan dari gas buang kapal dan sinar
matahari melalui solar cell. Penelitian
menunjukkan bahwa pada kapal ikan berukuran kecil efisiensi mesin diesel hanya
sekitar 35%, dengan lebih dari setengah energi terbuang melalui panas yang
terbawa oleh air pendingin mesin kapal (water cooling system) dan gas buang
(exhaust gas) (Wilson, 1999). Sedangkan sinar matahari dapat diperoleh dengan
mudah mengingat kondisi geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa,
sehingga dapat menjadi sumber energi panas dan bersifat ramah lingkungan. Keunggulan
lain dari sistem ini adalah biaya operasional yang murah, perawatan yang mudah
karena hanya sedikit peralatan yang bergerak, serta lebih ramah lingkungan
karena refrigeran yang digunakan tidak menyebabkan efek rumah kaca
(Ananthanarayanan, 2013).

Dalam skripsi ini akan melakukan perancangan unit
mesin pendingin dengan refrigerasi absoprsi untuk kapal ikan 20 GT. Tujuannya
untuk merancang suatu sistem refrigerasi yang dapat diterapkan pada kapal ikan berukuran
sedang dengan konsep ramah lingkungan serta hemat energi.

Author: