LATAR untuk menyampaikan syiar-syiar IslamMETODEUntuk memenuhi kebutuhan informasi

LATAR BELAKANGBerdakwah adalah kewajiban setiap muslilm, baik ketika sendirian maupun ketika berada dalam suatu kelompok, oleh karena itu dakwah mengandung pengertian sebagi sebuah kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan dan tingkah laku dan lain sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual atau kelompok agar timbul dalam diri manusia suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengalaman terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepada manusia dengan tanpa adanya paksaan. Dengan demikian essensi dakwah adalah terletak pada ajakan, dorongan/motivasi atau rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama dengan penuh kesadaran demi kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan da’i, dakwah akan terasa lebih mudah terserap oleh kalangan anak-anak yang notabene cepat dalam menyerap sesuatu, karena anak adalah generasi penerus bangsa yang harus ditanamkan niai-nilai kebaikan sejak dini, dakwah dengan target pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, Dongeng misalnya, diyakini memiliki peran penting dalam membantu perke mbangan kognitif seperti bahasa dan pemikiran, dan sosioemosional anak seperti emosi dan kepribadian.Kisah sebagaimana halnya dongeng memang cukup beralasan jika memiliki peran penting terhadap perkembangan anak. Allah Subhanahu Wata’ala banyak memberikan contoh kisah orang -orang terdahulu di dalam al-Quran sebagai pelajaran bagi umat manusia seperti kisah tiga orang yang terperangkap di dalam sebuah gua. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam pun banyak membawakan kisah -kisah orang -orang terdahulu kepada para sahabatnya hingga sampai kepada kita semua sebagai sarana tarbiyah dan tashfiyah. Menurut Al -Maghribi (2004:374 -375) ceri ta atau kisah memiliki peran besar dalam memperkokoh ingatan, kesadaran berfikir yang mempengaruhi akal seorang anak, dan sarana pendidikan yang paling efektif karena ia bisa mempengaruhi perasaan dengan kuat. Al -Quranul karim pun menurutnya, banyak dipenu hi oleh kisah atau cerita. Di antaranya adalah kisah sejarah, kisah kemasyarakatan, kisah hal yang nyata (sekarang), kisah nasehat, kisah pelajaran, perilaku dan berbagai ruang lingkup kehidupan. Oleh karena itu, kiranya cukup berdasar jika tulisan ini berusaha membahas tentang mendongeng sebagai media dakwah.TUJUANTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi informan dalam berdongeng sebagai media dakwah dan cara seperti apa saja yang digunakan dalam mendongeng untuk menyampaikan syiar-syiar IslamMETODEUntuk memenuhi kebutuhan informasi yang penulis butuhkan dalam menulis penelitian ini, penulis melakukan wawancara secara langsung kepada Informan dan juga mencari referensi dari jurnal-jurnal open acces yang membahas tentang mendongeng dan berdakwah. Penulis lalu menganalisis beberapa hasil temuan baik dari sumber primer maupun sekunder. Metode kualitatif dipilih sebagai alat bantu untuk memaparkan dan memahami makna yang berasal dari informan. Untuk penelitian ini penulis mengambil satu Informan saja yang berperan dalam HASILPada penelitian ini penulis berkesempatan mewawancarai Kusen, P.h.D di kediamannya di Jombang Ciputat, belaiau adalah Dosen Filsafat Fakultas Uhuludin dan sekarang sedan mengemban jabatan sebagai Ketua Lembaga Seni dan Olahraga Pengurus Pusat Mhammadiyah. Awalnya berdakwah bagi Kusen adalah sebuah tuntutan, saat itu di Cepu tempat  Kusen tinggal semasa kecil adalah basis Muhamadiyah. Karena Muhammadiyah tergolong baru, maka masjid Muhammadiyah disana sepi dari jamaah, Kusen sebagai anak Muhammadiyah kala itu merasa risau dengan sepinya masjid dari jamaah, apalagi sepeniggal gurunya disana. Akhirnya Kusen merasa terpanggil oleh keadaan itu. Kusen menganggap para penceramah di masji tidak up to date dalam berdakwah sehingga jamaah merasa bosan dan ilmu yang didengar hanya sekedar masuk. Setelah itu dia berfikir untuk menghidupkan masjid dia harus menguasai apa yang memang harus dikuasai, dalam hal ini Kusen terlintas untuk menguasai ranah anak-anak, kemudian berfikir cara apa yang paling dekat dengan anak-anak untuk menghidupkan masjid? Maka munculah ide untuk berdongeng sebagai media dakwah.Dalam mendongeng Kusen mengadaptasi dongeng-dongeng nusantara dan sedikt melakukan improfisasi untuk menanamkan nilai-nilai Islam didalamnya. Sebut saja dongeng tentang Timun Emas dan Wiro Sableng, yang dikisahkan sedang berpetualang dihutan dan harus sembahyang ketika waktu shalat tiba, untuk sembahyang memerlukan air sementara di hutan tidak ada air maka akhrinya Wiro Sableng harus bertayamum, itulah sedikit contoh dongeng nusantara yang diimprovisisasi. Kusen sengaja berdongeng setelah shalat selesai, dalam berdongeng dia seringkali memberikan akhir yang membuat anak-anak penasaran dengan kelanjutan cerita tersebut, maka untuk melanjutkannya akan dilakukan setelah waktu shalat berikutnya. Husen menganggap dongen adalah alat propaganda.Setelah sekian banyak dan ramai masjid oleh anak-anak, Kusen berniat unutk menguji keseriusan anak-anak dalam mendengarkan dongeng, maka dia pindahkanlah waktu mendongeng ke waktu shalat subuh, karena untuk mengetes keimanan seseorang lihatlah shalat subuhnya. Hasil yang didapat sangat mengejutkan, ternyata anak-anak tetap antusias dengan dongeng dakwahnya Kusen meskipun waktunya berubah. Dari hasil itu semakin hari jamaah semakin banyak, bahkan ibu-ibu dari anak-anak itupun ikut larut dengan dongen dakwah.Hasil yang demikian cemerlang ternyata masih harus selalu diperbarui maka Kusen berinisiatif untuk merekatkan keilmuan anak-anak melalui lomba, lomba mendongeng, menari dan menyayi. Tidak cukup hanya dengan cara itu, Kusen ingin dongeng dakwah ini tidak hanya sekedar dongeng namun ingin mementaskannya dalam bentuk drama. Drama inilah yang ditampilkan ketika malam penganugerahan bagi pemenang-pemenang lomba.Kusen merasa dibesarkan oleh dongeng dan dongeng adalah bagian dari dirinya. Dongeng memiliki kekuatan besar, akan mudah apabila mengajarkan kognitif pada anak namun untuk menanamkan afektifitas dibutuhkan cara yang beda, maka dongeng lah jawabannya. Dongeng dapat mempengaruhi nilai dan meningkatkan kecintaan anak pada Islam. Untuk menanamkan cinta dapat dilakukan 2 cara, yaitu dengan keteladanan dan kedua melalui pendidikan yang persuasif, menurutnya dongen adalah pendidikan yang paling persuasif.Kusen sudah berdongeng sekian lama, selama itu pula Kusen tidak pernah menggunakan alat peraga apapun dalam berdongeng. Dia sepenuhnya menggunakan tubuhnya sebagai media, ketika menggunakan alat peraga bagi Kusen itu seperti menunjukan kelemahan. Menariknya sebuah dongeng bukanlah dilihat dari alat peraganya, ia sama seperti puisi, menunjukan totalitas tanpa diiringi hal lain yang mungkin saja dapat menutupi essensi dari dongeng atau puisi tersebut.Tentunya dalam mendongeng Kusen sudah lebih dulu menguasai cerita nusantara yang dia adaptasi, selain mengadopsi dan improvisasi dongeng, Kusen juga membuat cerita dan tokohnya sendiri, dia sebut itu sebagai dongen carangan. Dongeng carangan ini muncul ketika cerita-cerita nusantara sudah habis stok bukunya. Sebut saja tokoh carangannya adalah “Salehan” yang menceritakan seorang anak kecil yang akan dijadikan tumbal oleh orang tuanya untuk mendapat kekayaan, karena saat itu isu tentang pesugihan sebagai sumber kekayaan sangatlah marak, Salehan digambarkan sebagai tokoh yang alim dan kuat imanya sehingga tidak akan mempan apabila ditumbalkan, setan pun akan takut kepada anak yang saleh sehingga Salehan pun menang pada akhirnya. Dongeng ini bermaksud untuk menyadarkan anak-anak dalam meningkatkan imannya sehingga tidak mungkin dirinya dijadikan tumbal oleh orang tuanya.Tidak pernah sedikitpun terlintas dalam kepala Kusen untuk menjadikan dongeng sebagai profesi, dongeng bagi Kusen semata-mata adalah alat dakwah, kalaupun dia mendapatkan pundi-pundi rupiah dari mendongeng itu dianggapnya sebagai bonus.Foto penulis dengan pak KusenKusen prihatin dengan situasi dan kondisi anak pada zaman sekarang yang terkenal nakal dan melawan orang tua, itu semua karena sejak kecil mereka didongengi oleh televisi, oleh sinchan, upin-ipin dan serial kartun lainnya. Orang tua dewasa ini tidak lagi terampil dalam berdongeng kepada anak, akibatnya mereka mencari pelarian dengan menonton TV sehingga mengurangi daya imajinasinya. Ciri guru yang baik adalah yang pandai mendongeng, guru belum bisa dikatakan baik apabila belum bisa mendongeng.Ketika Kusen sedang berdongeng dakwah dia juga menyerap dan mengalkuturasikan budaya lokal dengan Islam, ada budaya yang dia perangi, budaya yang dimaafkan, dan budaya yang dilestarikan. Contoh budaya yang diperangi adalah budaya mabuk orang-orang Jawa zaman dulu. Dalam melakukan akulturasi juga Kusen secara tidak langung sudah memperkenalkan tokoh-tokoh cerita wayang yang notabene adalah warisan budaya Jawa. KESIMPULANDongeng bisa dijadikan sebagai media dakwah dan alat propaganda, dengan metode mendongen kegiatan dakwah jadi lebih menarik sehingga dapat lebih menarik hati para jamaah khususnya anak – anak, dongen yang disampaikan boleh diadaptasi dari mana saja dan boleh diimprofisasi dengan memasukan nilai-nilai Islam. Dongeng bisa disebut sebagai pendidikan paling persuasif dalam menenamkan keteladanan. Dongeng dakwah lebih condong pada penggunaan anggota tubuh sebagai media karena dengan cara itu dapat menunjukan keEsaan Allah yang telah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya.SARAN Untuk kembali meningkatkan jiwa spiritual umat khusunya anak-anak maka diperlukan metode dakwah yang menarik, penulis menyarankan bagi siapapun dai atau ustad atau penceramah kondang sekalipun agar bisa memberikan kisah-kisah inspiratif pada jamaah dan dibawakan dengan cara yang menarik agar jamaah merasa terhibur dan juga terdidik dengan cara itu. Dan untuk para orang tua mulailah untuk memberikan pendidikan persuasif tentang keagamaan kepada anak, karena mereka adalah generasi emas penerus bangsa.

Author:

x

Hi!
I'm Eileen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out